
Bukan Hanya untuk Kanker, PET Scan Bisa Bantu Menilai Fungsi Jantung
TRIBUNHEALTH.COM – Pemeriksaan Positron Emission Tomography (PET) scan selama ini lebih dikenal masyarakat sebagai salah satu pemeriksaan yang digunakan dalam penanganan kanker. Padahal, teknologi kedokteran nuklir ini juga dapat dimanfaatkan untuk mengevaluasi fungsi organ lain, termasuk otak dan jantung. Dokter Spesialis Kedokteran Nuklir, dr. Prima Hari Pratama, Sp.KN-TM, yang berpraktik di RS Indriati, Solo Baru, mengatakan PET scan dapat digunakan untuk menilai fungsi jantung, salah satunya melalui pemeriksaan viability atau kelayakan jaringan jantung untuk tetap berfungsi. “PET scan juga bisa digunakan untuk evaluasi fungsi jantung. Kita bisa sebut namanya untuk viability, menentukan jantung ini masih berfungsi secara baik atau tidak,” ujar dr. Prima.
Menilai Jaringan Jantung yang Masih Bisa Berfungsi Menurut dr. Prima, adanya penyumbatan pembuluh darah jantung tidak selalu berarti jaringan di area tersebut sudah kehilangan fungsi. “Kalau ada pembuluh darah tersumbat, belum tentu di daerah situ mengalami penurunan fungsi. Tapi bisa saja,” jelasnya. Ia menjelaskan, kondisi pembuluh darah dan kondisi jaringan jantung yang dialirinya merupakan dua hal yang perlu dievaluasi. Suatu area jantung dapat mengalami kekurangan aliran darah hingga fungsi jaringan menurun. Melalui pemeriksaan PET scan, dokter dapat melihat area jantung mana yang masih memiliki fungsi atau viable dan mana yang sudah mengalami kerusakan jaringan. “Kita bisa lihat daerah jantung mana yang sudah mengalami penurunan fungsi. Apakah ini masih viable atau tidak?” kata dr. Prima. Informasi tersebut kemudian dapat menjadi salah satu pertimbangan bagi dokter spesialis jantung dalam menentukan penanganan pasien.
Membantu Menentukan Kebutuhan Intervensi. Dr. Prima mencontohkan, apabila ditemukan penyumbatan pembuluh darah tetapi jaringan jantung di area tersebut sudah mengalami kerusakan permanen, tindakan untuk membuka pembuluh darah mungkin tidak memberikan manfaat yang sama. “Walaupun misalnya kita tahu itu sudah menyumbat, tapi jaringannya sudah mati, apakah itu perlu untuk dipasang ring? Mungkin nggak perlu, karena nggak ada gunanya,” tuturnya.
Sebaliknya, apabila jaringan jantung masih hidup tetapi mengalami penurunan fungsi akibat berkurangnya aliran darah, area tersebut dapat menjadi prioritas untuk mendapatkan intervensi. “Tapi kalau jaringannya itu baru mengalami penurunan fungsi, area ini yang lebih diutamakan untuk dilakukan intervensi oleh dokter spesialis jantung,” lanjutnya. Dengan demikian, pemeriksaan PET scan dapat memberikan informasi tambahan yang membantu dokter menentukan strategi penanganan secara lebih tepat sesuai kondisi jaringan jantung pasien. Tidak Hanya untuk Keganasan Dr. Prima menegaskan, penggunaan PET scan sebenarnya cukup luas dan tidak terbatas pada penyakit kanker. Pemeriksaan ini dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan medis, termasuk evaluasi fungsi otak dan jantung.
“Memang bisa untuk multi, cuma karena sebagian besar orang awam atau mungkin yang diketahui secara umum, lebih banyak digunakan untuk kasus-kasus keganasan,” ungkapnya. Pada kasus kanker, PET scan dapat membantu dokter melihat aktivitas metabolisme jaringan sehingga area yang mencurigakan dapat dievaluasi lebih lanjut. Sementara pada kondisi tertentu di jantung, pemeriksaan ini dapat membantu menilai apakah jaringan yang mengalami gangguan fungsi masih memiliki peluang untuk kembali berfungsi atau tidak. Meski demikian, kebutuhan pemeriksaan PET scan tetap bergantung pada kondisi dan indikasi medis setiap pasien. Hasil PET scan juga perlu diinterpretasikan oleh dokter dan dikombinasikan dengan pemeriksaan lain sebelum menentukan diagnosis maupun terapi.









